Indonesia Menyapa, Jakarta — Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi sorotan karena berpotensi memberikan tekanan besar terhadap sektor usaha, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kenaikan harga bahan baku impor serta menurunnya daya beli masyarakat dinilai dapat memperberat beban pelaku usaha yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, mengatakan dampak penguatan dolar tidak hanya dirasakan pada level ekonomi makro, tetapi juga langsung memengaruhi aktivitas usaha masyarakat.
“Ketika dollar menguat, UMKM menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat justru melemah. Akibatnya, pelaku usaha menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus,” ujar Agung kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
UMKM Rentan terhadap Gejolak Ekonomi
Menurut Agung, sebagian besar UMKM memiliki ketahanan yang lebih terbatas dibandingkan perusahaan besar karena sangat bergantung pada arus kas harian untuk menjalankan operasional usaha.
Kondisi tersebut membuat UMKM lebih rentan ketika terjadi gejolak ekonomi maupun fluktuasi nilai tukar.
“Banyak UMKM tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Sedikit saja terjadi gejolak ekonomi, keuntungan mereka langsung tergerus. Bahkan dalam kondisi tertentu, ada yang terpaksa mengurangi produksi atau menunda pengembangan usaha,” katanya.
Karena itu, ia menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) perlu memperkuat strategi pendampingan bagi para pelaku usaha.
“Dinas PPKUKM DKI Jakarta perlu mengambil peran yang lebih strategis. UMKM membutuhkan pendampingan yang membantu mereka memahami perubahan ekonomi, mengantisipasi risiko, dan menemukan peluang usaha di tengah situasi yang tidak menentu,” ujarnya.
Digitalisasi dan AI Dinilai Jadi Solusi
Selain pendampingan, Agung menekankan pentingnya percepatan transformasi digital dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Menurutnya, teknologi dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Saat biaya usaha terus meningkat, efisiensi menjadi kunci. AI dan teknologi digital dapat membantu UMKM mengelola keuangan, membaca tren pasar, menyusun strategi pemasaran, hingga meningkatkan produktivitas usaha. Ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” tegasnya.
Perkuat Rantai Pasok Lokal
Di sisi lain, Agung juga mendorong penguatan rantai pasok lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Menurutnya, pengembangan produk substitusi impor dan kemitraan dengan produsen lokal harus menjadi agenda jangka panjang untuk memperkuat ketahanan UMKM.
“Selama UMKM masih bergantung pada bahan baku impor, setiap pelemahan rupiah akan selalu menjadi ancaman. Karena itu, penguatan kemitraan dengan produsen lokal dan pengembangan produk substitusi impor harus menjadi agenda jangka panjang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pengembangan UMKM seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan pemerintah, melainkan dari kemampuan pelaku usaha untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi.
“Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah ketika UMKM tetap produktif, mampu menjaga lapangan kerja, dan terus tumbuh meskipun ekonomi sedang menghadapi gejolak. Di situlah peran pemerintah benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada Selasa (9/6/2026).
Data pasar menunjukkan dolar AS bergerak di kisaran Rp18.129 hingga Rp18.180 per dolar AS.
Level tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berada di atas batas psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama ini dianggap sebagai salah satu indikator penting stabilitas mata uang nasional.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi sektor usaha, termasuk UMKM yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi dan perubahan daya beli masyarakat.
Sumber: Dolar AS Tembus Rp18.000, Jakarta Institute Ingatkan Ancaman bagi UMKM – Wartakotalive.com

