Indonesia Menyapa, Jakarta — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA menghasilkan nilai rata-rata nasional untuk Matematika hanya mencapai 36,10 dan Bahasa Inggris 24,93.
Ketua Umum Organisasi Pendidikan Guru Matematika Nusantara (OPGMN), Moch. Fatkoer Rohman, menegaskan, hasil TKA harus dipahami sebagai refleksi.
Capaian yang masih rendah, khususnya pada matematika, menunjukkan pembelajaran perlu segera dibenahi.
Fatkoer menilai rendahnya capaian matematika menunjukkan bahwa pola pembelajaran di banyak sekolah masih belum menyentuh kemampuan berpikir siswa.
“Masih banyak pembelajaran yang hanya berisi rumus dan latihan soal berulang. Anak akhirnya terbiasa menghafal cara cepat, tetapi tidak benar-benar memahami konsep,” ujar Fatkoer dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, kondisi ini membuat siswa kesulitan ketika menghadapi soal yang membutuhkan logika, analisis, dan penalaran. Padahal, kemampuan itulah yang diukur dalam TKA.
Ia mencontohkan, masih ditemukannya siswa SMA yang mengandalkan hitungan jari untuk operasi dasar menjadi tanda bahwa persoalan pemahaman konsep sebenarnya sudah terjadi sejak jenjang awal dan terus terbawa hingga tingkat menengah.
“Kalau fondasi numerasinya tidak kuat sejak SD, dampaknya akan terus terbawa. Di SMA akhirnya siswa kesulitan memahami materi yang lebih kompleks,” jelasnya.
Fatkoer menegaskan TKA seharusnya tidak direspons dengan memperbanyak drilling soal semata.
Ia mengingatkan, fokus utama tetap harus pada perubahan proses belajar di kelas.
“TKA itu alat ukur, bukan tujuan akhir. Yang perlu dibenahi adalah proses pembelajarannya. Siswa harus diajak berpikir, berdiskusi, mencoba, dan menemukan konsep, bukan hanya menghafal jawaban,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Surabaya, Iva Afiati Rahma.
Menurutnya, hasil TKA membantu sekolah membaca kondisi pembelajaran secara lebih terukur karena data capaian siswa dapat dibandingkan dengan rata-rata nasional.
“Dari hasil TKA, kami bisa melihat mata pelajaran mana yang perlu perhatian lebih serius. Ini membantu guru melakukan evaluasi yang lebih objektif dan berbasis data,” ujarnya.
Di SMAN 1 Surabaya, hasil TKA tidak berhenti sebagai laporan angka.
Sekolah menjadikannya dasar untuk menyusun langkah perbaikan, mulai dari klinik belajar bagi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan, evaluasi metode pengajaran.
Bahkan hingga pelatihan guru untuk memperkuat pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif.

