Indonesia Menyapa, Ambon — Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui digitalisasi dan pengembangan akses pasar ekspor guna meningkatkan daya saing usaha daerah.
“Digitalisasi menjadi solusi agar UMKM di Maluku Utara mampu menjangkau pasar yang lebih luas tanpa terkendala wilayah,” kata Kepala Perwakilan BI Maluku Utara Handi Susila di Ternate, Jumat (15/4).
Ia menegaskan BI berkomitmen menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam pengembangan UMKM melalui transformasi digital dan perluasan akses pasar.
Menurut dia, kondisi geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan menjadi tantangan tersendiri yang perlu dijawab dengan penguatan digitalisasi usaha.
Selain digitalisasi, BI Malut juga mengembangkan produk unggulan daerah seperti kopi rempah serta wastra dan batik khas Maluku Utara agar mampu menembus pasar nasional maupun internasional.
“Kenapa kita tidak mencoba dengan kopi rempah, ini sudah jadi ciri khas Ternate dan Maluku Utara. Di mana-mana kalau mau bahas sesuatu, ayo kita ngopi dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara yang diwakili Asisten II Setda Sri Haryanti Hatari mengatakan program Serangkaian Kurasi UMKM dan Wirausaha Unggulan BI (SERUMBI) 2026 menjadi langkah nyata dalam memperkuat kapasitas UMKM daerah.
“SERUMBI 2026 adalah langkah nyata BI dan Pemprov untuk mendorong UMKM tidak hanya dibina, tapi juga difasilitasi sampai ke pasar nasional,” katanya.
Menurut dia, program tersebut difokuskan pada tiga sektor utama yakni digitalisasi, akses pembiayaan, dan pengembangan potensi ekspor produk unggulan daerah.
Pemprov Maluku Utara juga menyalurkan bantuan modal usaha mulai Rp3 juta hingga Rp15 juta dengan bunga 0,01 persen bagi pelaku UMKM di Sofifi dan Ternate.
Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan dukungan standar dan sertifikasi produk unggulan seperti kopi rempah, hasil laut, dan kerajinan agar mampu bersaing di pasar internasional dengan label “Made in Maluku Utara”.
Berdasarkan data Pemprov Maluku Utara, daerah itu memiliki sekitar 195 ribu UMKM dengan 95 persen di antaranya merupakan usaha mikro yang menyerap 584.988 tenaga kerja.
“Digitalisasi sekarang bukan pilihan, tapi keharusan,” kata Sri Haryanti.
Sumber: BI-Pemprov Malut perkuat UMKM lewat digitalisasi dan akses ekspor – ANTARA News Ambon, Maluku

