Beberapa negara bahkan menerapkan langkah-langkah ekstrem, seperti pemangkasan penggunaan listrik industri, pembatasan transportasi, dan pelarangan ekspor bahan bakar. Tujuan dari semua kebijakan tersebut adalah untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi global.
Kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menyatakan, “Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang-orang berhenti mengonsumsi.”
Selain sektor energi, gangguan pada perdagangan pupuk menyebabkan harga melonjak hingga 30-40%. Jika kondisi ini berlanjut, produksi pertanian global berpotensi menurun dan memicu krisis pangan baru.
Dampak perang tidak hanya dirasakan di tingkat kebijakan negara, tetapi juga oleh dunia usaha, terutama UMKM.
Ketidakpastian global meningkatkan biaya bahan baku, mengganggu distribusi, dan melemahkan daya beli masyarakat. UMKM berada dalam situasi sulit: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga dapat mengurangi keuntungan.
Pelemahan ekonomi global berpotensi menekan permintaan ekspor, sementara fluktuasi nilai tukar meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini membuat UMKM berada dalam posisi yang sulit.
Gangguan pada sektor energi juga memicu efek domino pada rantai pasok global. Distribusi logistik, pengiriman bahan baku, dan pasokan komoditas strategis seperti helium dan obat-obatan ikut terpengaruh.
Jika konflik berlanjut, tekanan ini dapat menyebabkan kenaikan harga barang konsumsi di berbagai negara. Masyarakat di seluruh dunia mungkin perlu menyesuaikan pola konsumsi mereka sebagai akibat dari perang di Timur Tengah.