Hari Jadi Kota Bandung, Akademisi Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi dan Kolaborasi

UMKM

Indonesia Menyapa, Bandung — Bandung dikenal sebagai kota kreatif dengan denyut ekonomi yang banyak ditopang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Data Dinas KUKM Kota Bandung pada 2024 mencatat ada lebih dari 400 ribu pelaku UMKM aktif, yang menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota.

Angka ini mempertegas bahwa UMKM bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan penopang utama perekonomian Bandung.

Namun, di balik peran strategis itu, banyak UMKM Bandung masih kesulitan bersaing di tengah era digital.

Menurut Heny Hendrayati, Dosen Prodi Manajemen sekaligus Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu FPEB UPI, ada sejumlah faktor yang menghambat.

“Faktor utamanya adalah rendahnya literasi digital, keterbatasan akses modal, lemahnya SDM, dan infrastruktur pendukung yang belum merata. Kalau ini tidak segera diatasi, UMKM Bandung yang sebenarnya kreatif bisa kalah bersaing dengan produk luar daerah bahkan luar negeri yang lebih siap secara digital,” kata Heny, Sabtu (27/9/2025).

Survei Bank Indonesia 2024 menyebutkan sekitar 29,6 persen UMKM di Jawa Barat yang memanfaatkan platform digital untuk pemasaran dan transaksi.

Padahal, di era marketplace dan media sosial, keberadaan digital menjadi syarat mutlak menembus pasar luas.

Selain itu, akses permodalan juga masih menjadi kendala klasik. Data OJK 2024 menunjukkan porsi kredit UMKM di Indonesia baru 18,6 persen dari total kredit perbankan.

Angka ini jauh lebih rendah dibanding negara tetangga, seperti Malaysia (35 persen), Thailand (30 persen), dan Vietnam (25 persen).

“Kesenjangan pembiayaan ini jelas menghambat daya saing, apalagi dengan jumlah UMKM Indonesia yang mencapai 65,5 juta unit,” tambah Heny.

Masalah lain adalah kesenjangan akses teknologi, terutama di wilayah pinggiran Bandung. Masih banyak UMKM yang terbatas internet stabil atau perangkat pendukung.

Data Kementerian Kominfo 2023 bahkan menunjukkan sekitar 40 persen UMKM Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan internet dalam usaha mereka.

Rendahnya standar sertifikasi produk, mulai dari izin BPOM, sertifikat halal, hingga kemasan berstandar ekspor, juga mempersempit langkah UMKM menembus pasar global.

Di sisi lain, Heny mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Bandung yang telah menghadirkan sejumlah program, mulai dari pelatihan, fasilitasi pameran, hingga penyediaan ruang kreatif seperti Bandung Creative Hub.

“Namun, jika dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ratusan ribu, skala program masih belum memadai. Banyak kegiatan berhenti pada pelatihan singkat, sementara pendampingan jangka panjang masih jarang,” ujarnya.

Menurutnya, jika ingin benar-benar mendorong UMKM naik kelas, kebijakan perlu bergeser dari sekadar event-based menjadi impact-based. Pendampingan intensif, akses modal yang lebih luas, dan dukungan digitalisasi harus menjadi prioritas.

Momentum Hari Jadi Kota Bandung, kata Heny, seharusnya menjadi titik kebangkitan UMKM.

Branding Bandung sebagai kota kreatif yang telah diakui UNESCO harus dijadikan modal sosial.

“UMKM Bandung tidak boleh hanya puas bertahan, tetapi harus mampu tumbuh dan bersaing. Pertumbuhan itu hanya akan tercapai bila ada keberanian meningkatkan kualitas,” katanya.

Langkah itu bisa dimulai dari sertifikasi halal, izin edar BPOM, kemasan berstandar ekspor, hingga manajemen keuangan yang profesional. Kolaborasi, lanjut Heny, menjadi kunci agar UMKM mampu menghadapi persaingan digital yang semakin ketat.

Heny menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, kampus, komunitas, dunia usaha, dan media atau yang dikenal dengan konsep pentahelix.

Perguruan tinggi di Bandung, baik negeri maupun swasta, memiliki potensi besar dengan ribuan dosen dan puluhan ribu mahasiswa.

“Akademisi dapat berkontribusi lewat riset terapan yang menjawab kebutuhan UMKM, misalnya strategi digital marketing yang sesuai produk lokal atau model bisnis berbasis komunitas. Mahasiswa juga bisa dilibatkan lewat KKN tematik, magang, atau program kewirausahaan sosial,” jelasnya.

Peran media juga tak kalah penting, selain sebagai kanal promosi dan edukasi, media mampu mengangkat kisah sukses UMKM, memperluas jangkauan produk lokal, sekaligus membangun citra positif bahwa produk Bandung layak bersaing di level nasional dan global.

Heny memberikan pesan khusus bagi pelaku UMKM di momen Hari Jadi Kota Bandung.

“Jangan takut berubah. Gunakan teknologi sebagai sahabat sehari-hari, mulai dari pencatatan digital hingga promosi online. Dengan inovasi, kolaborasi, dan dukungan pemerintah, UMKM Bandung bisa naik kelas dan menjadi motor kreativitas kota,” tegasnya.

 

Sumber: Hari Jadi Kota Bandung, Akademisi Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi dan Kolaborasi – Tribunjabar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *