Indonesia Menyapa, Jakarta — Riuh perhelatan Inacraft 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) bukan sekadar pesta kriya tahunan. Di balik target transaksi Rp102 miliar dan 100 ribu pengunjung, ada pertaruhan lebih besar: bagaimana ribuan produk UMKM tak berhenti sebagai cendera mata pameran, melainkan bergerak menjadi komoditas ekonomi yang hidup di pasar.
Tahun ini Pos Indonesia, atau PosIND, melalui Direktorat Kurir dan Logistik hadir sebagai Official Logistic Partner Inacraft 2026. Peran itu bukan kosmetik belaka, melainkan jantung ekosistem dari geliat ekonomi melalui UMKM.
“Hadirnya PosAja! di acara ini adalah komitmen nyata kami sebagai official logistic partner Inacraft. Kami memastikan produk yang ditransaksikan di sini berhasil dikirim sampai tujuan, seller bisa santai, customer bisa belanja banyak, kami yang mengirimkan sampai ke tempat,” ujar Senior Vice President Retail Business Divisi Kurir dan Logistik Pos Indonesia, Helly S. Halimah, Minggu (8/2/2026).
Menurut Helly, kehadiran Wapres dan Ketua Umum Dekranas pada pembukaan memperkuat posisi UMKM kriya dan wastra sebagai pilar ekonomi. Tugas Pos Indonesia adalah memastikan dukungan pemerintah itu diterjemahkan menjadi akses pasar nyata melalui logistik yang andal.
Bagi Helly, Inacraft adalah panggung strategis untuk membuktikan bahwa logistik menentukan masa depan UMKM. Ia mengingatkan, ribuan kreator datang dari seluruh Indonesia dengan membawa produk terbaik, banyak di antaranya dibeli oleh pengunjung luar kota bahkan luar negeri.
“Kami boleh mengklaim memiliki jaringan paling luas di Indonesia. Pos Indonesia punya lebih dari 11.500 titik layanan dengan 4.000 loket pos, sekitar 3.000 Agenpos, dan ± 3.000 Drop Point. Ketika bicara UMKM, PosAja! paling kuat untuk bisa men-support mereka,” katanya.
PosIND Menjawab Tantangan Makro
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3129487/original/043143200_1589539567-20200515-Paket-Pos-Lebaran-sasa.jpg)
Secara nasional, biaya logistik masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak pelaku UMKM mengaku kesulitan menembus pasar karena ongkos kirim dan kerumitan prosedur ekspor. Helly mengakui persoalan itu.
“Tidak semua paham cara kirim ke luar negeri, mana barang berbahaya, mana yang harus karantina. Tim kami mengawal sampai barang tiba. Beda negara beda treatment,” jelasnya.Helly menekankan bahwa peran Pos Indonesia telah bergeser. Bukan lagi sekadar mengantar paket, tetapi menjadi mitra pertumbuhan. Ia menyebut banyak pelaku UMKM belum memahami peta besar ekspor: barang yang masuk kategori dangerous goods, kebutuhan karantina, hingga perbedaan regulasi tiap negara.
“Kami punya tim yang mengawal sampai barang benar-benar tiba. Beda negara beda treatment, mana yang lewat udara, laut, atau darat. Seller dan customer tidak perlu pusing, kami yang bantu memikirkan itu,” tuturnya.
PosAja! di Pusat Ekosistem UMKM
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3129491/original/022661500_1589539570-20200515-Paket-Pos-Lebaran-Faizal.jpg)
Dalam pandangannya, logistik harus berubah menjadi ekosistem. Pos Indonesia kini menyiapkan platform PosAja UMKM agar pelaku usaha bisa membuka storefront daring, terhubung dengan sistem kirim, hingga layanan warehousing.
“Harapan kami, PosAja! tidak hanya dikenal sebagai produk pengiriman, tapi sebagai partner tumbuh bersama. Kami ingin membantu A sampai Z supaya UMKM jadi besar, tumbuh bareng, grow together,” ujar Helly.
Inacraft 2026 menunjukkan wajah ekonomi Indonesia yaitu kreatif, beragam, namun masih bertarung dengan ongkos distribusi. Di tengah tantangan itu, Pos Indonesia mencoba menjadi lokomotif logistik yang menarik gerbong-gerbong kecil UMKM menuju pasar lebih luas.
Sumber: Inacraft 2026: Panggung Strategis Pembuktian Logistik Jadi Penentu Masa Depan UMKM

