Balasan Sengit Iran saat Trump Sesumbar Hancurkan Hitungan Menit

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Pemimpin kedua negara melontarkan ancaman untuk saling menghancurkan.

Dirangkum detikcom, Selasa (3/11/2026), Iran dan AS pertama kali terlibat saling serang sejak 28 Februari 2026. Hampir sembilan bulan berselang, perang kedua negara itu masih jauh dari kata usai.

Setelah sempat mengendur dan mengedepankan jalur diplomasi, Iran dan AS kini mulai memberikan sinyal akan melakukan serangan. Kedua negara telah menyatakan siap jika harus kembali berperang.

 

Trump Sesumbar Akan Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran

Presiden AS Donald Trump sesumbar mengklaim bisa menghancurkan fasilitas-fasilitas yang dicurigai sebagai bagian program nuklir Iran dalam waktu “10 menit” saja. Hal ini mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer lebih lanjut di tengah negosiasi diplomatik yang sedang berlangsung.

Saat berbicara kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (2/11), Trump mengklaim operasi militer AS telah sangat melemahkan militer dan infrastruktur nuklir Iran, sehingga hanya tersisa beberapa lokasi yang mungkin menjadi target serangan baru.

“Kita telah melumpuhkan program nuklir mereka. Masih ada, katakanlah, satu atau dua lokasi yang harus kita tangani, tetapi kita bisa melakukannya dalam 10 menit. Jadi, kita sudah memiliki rencananya,” kata Trump dalam pernyataan pada Sabtu (31/10).

“Mungkin Anda bisa melihat ke Gunung Pickaxe, lokasi itu harus ditangani. Kita bisa melakukan semuanya dengan cepat,” cetus Presiden AS itu, merujuk pada fasilitas yang dicurigai sebagai kompleks nuklir bawah tanah Iran.

Pemerintah Iran telah membantah adanya aktivitas nuklir apa pun di lokasi tersebut.

Trump menyampaikan pernyataan itu saat ditanya soal apakah ada kerangka waktu untuk negosiasi yang kini sedang berlangsung antara Washington dan Teheran, yang dimediasi oleh Qatar.

Dia mengatakan bahwa AS tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan, sembari mengklaim kembali bahwa operasi militer Amerika telah menghancurkan sebagian besar Angkatan Laut, Angkatan Udara, pertahanan udara, peralatan militer, dan infrastruktur nuklir Iran.

Ketika ditanya apakah Washington mungkin kembali melancarkan operasi militer terhadap Teheran dalam waktu dekat, Trump menolak untuk memberikan jawaban langsung.

“Mengapa Anda mengajukan pertanyaan sebodoh itu?” ucapnya, sebelum menambahkan: “Saya tidak bisa memberi tahu Anda.”

Lebih lanjut, saat ditanya mengenai perkembangan negosiasi, Trump menyatakan keraguan terhadap kredibilitas Teheran, meskipun dia menyebut pembicaraan tersebut terus “berjalan dengan baik”.

“Pembicaraan berjalan dengan baik, tetapi mereka tidak terlalu bisa diandalkan. Saya mengatakan kepada Anda, mereka membuat kesepakatan lalu menarik diri. Mereka memang ingin membuat kesepakatan. Kita lihat saja apakah mereka benar-benar akan melakukannya,” kata Presiden AS tersebut.

Trump juga menegaskan kembali sikap Washington dalam menentang upaya Teheran untuk memperoleh senjata nuklir. “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka ingin membuat kesepakatan, kita lihat saja nanti,” tandasnya.

 

Iran Siap Berperang Lebih Lama dengan AS

Iran memperingatkan AS bahwa perang baru bisa berlangsung lebih lama daripada pertempuran sebelumnya. Peringatan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington masih harus “menangani” sejumlah target lainnya terkait Teheran.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah kerap diwarnai ancaman berulang dari AS dan Israel untuk kembali melancarkan pengeboman terhadap Iran. Beberapa waktu terakhir, negosiasi damai yang diupayakan para mediator, seperti Qatar dan Pakistan, menghadapi kebuntuan.

“Potensi perang di masa depan bisa berlangsung lebih lama daripada konflik sebelumnya, dan Presiden Amerika tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu atau syarat berakhirnya perang tersebut,” tegas juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran dan dilansir AFP, Senin (2/11).

Dalam fase paling sengit dari perang yang dimulai pada 28 Februari lalu — yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran, pasukan Teheran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap aset-aset militer Washington di seluruh kawasan Timur Tengah.

Kelompok-kelompok milisi yang beraliansi dengan Iran turut terlibat dalam pertempuran itu, termasuk Hizbullah di Lebanon hingga Houthi di Yaman. Sejauh ini, perang yang awalnya diprediksi berlangsung singkat ini masih terus berlanjut, dan memasuki bulan kedelapan, tanpa indikasi akan berakhir dalam waktu dekat.

Beberapa waktu terakhir, para pejabat militer dan politik Iran telah memberikan peringatan terhadap AS dan Israel di tengah potensi serangan terbaru. Peringatan dari Akraminia itu menggemakan peringatan serupa yang sebelumnya disampaikan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

“Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, maka Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iran-lah yang akan menentukan waktu dan kondisi untuk mengakhiri serangan tersebut,” tegas Khamenei dalam peringatannya yang dilaporkan media pemerintah Iran.

Secara terpisah, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menegaskan kembali peringatan tertulis dari Mojtaba.

“Dalam konflik dengan Amerika, tidak ada batasan geografis, medan yang luas telah ditetapkan untuk menimbulkan kerugian bagi pihak musuh,” tegasnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, dalam pernyataannya, mengharapkan agar “pihak lain akan bertindak rasional dan memilih jalur diplomasi”. Namun Araghchi juga menambahkan jika Teheran “tetap siap, baik untuk pertahanan maupun diplomasi”.

 

 

Sumber: Balasan Sengit Iran saat Trump Sesumbar Hancurkan Hitungan Menit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *