Indonesia Menyapa, Jakarta — Perhelatan Bazar UMKM Adaro Spectapreneur 2026 mencatatkan hasil yang sangat positif bagi pergerakan ekonomi daerah dengan transaksi mencapai Rp1,3 miliar.
Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Wahyu Sulistio menyebutkan total perputaran transaksi dari keseluruhan tenan ini bukti tingginya antusiasme masyarakat dengan memberikan efek ganda (multiplier effect) yang luas.
“Selain itu tercatat 48 kesepakatan Letter of Intent (LOI) dengan estimasi nilai mencapai Rp 120 juta,” jelas Wahyu, Selasa (27/10/k).
Manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan para pengusaha, tetapi juga mengalir deras ke sektor akar rumput seperti pemasok bahan baku, petani, perajin, tenaga kerja, hingga penyedia jasa logistik.
Sebagai tindak lanjut, PT Adaro Indonesia telah menargetkan Adaro Spectapreneur ke depannya dapat bertransformasi.
Dari yang awalnya sekadar event pertemuan penjual dan pembeli, menjadi sebuah ekosistem pemberdayaan ekonomi daerah yang mandiri.
“Fokus pengembangan UMKM akan diarahkan pada perluasan akses pasar, fasilitasi pembiayaan, pemanfaatan teknologi digital 4.0 yang kini sangat masif, hingga sertifikasi dan standardisasi produk,” tambah Wahyu.
Sebelumnya Bazar UMKM Adaro Spectapreneur 2026 yang berlangsung selama lima hari di Lapangan Murjani, Banjarbaru, resmi ditutup pada Minggu (25/10/2026) oleh Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kalsel, Dr Ariadi Noor.
Acara ini sukses merangkul total 337 tenan mencakup 208 UMKM binaan asal Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, dan Barito Timur, serta tambahan 129 UMKM lokal dari wilayah Banjarbaru dan sekitarnya.
Dalam acara penutupan Dr Ariadi Noor menyerahkan 12 sertifikat apresiasi dan legalitas, yang meliputi 4 sertifikat keahlian Training of Trainers (ToT) Pendamping UMKM, 2 sertifikat Pendamping UMKM, dan 6 sertifikat BPOM.
Terkait kelanjutan program pengembangan ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyoroti pentingnya langkah strategis pasca-kegiatan.
“Pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai setelah penyelenggaraan bazar ini selesai,” tegas Ariadi.
Ia meminta agar pendampingan dari PT Adaro Indonesia tidak berhenti sampai di sini, mengingat usaha kecil memerlukan pembinaan yang berkelanjutan untuk bisa naik kelas.
Pemerintah kabupaten dan kota juga diinstruksikan untuk mendata secara mendalam UMKM potensial jebolan bazar ini.
Tujuannya agar mereka segera terintegrasi ke dalam sistem pembinaan pemerintah daerah dan tidak perlu mengulang proses dari awal.
Para pelaku UMKM pun didorong untuk tidak cepat berpuas diri dan bisa terus adaptif, inovatif, dan konsisten menjaga kualitas, guna mewujudkan lahirnya merek-merek unggulan dari Kalimantan Selatan yang mampu menembus pasar nasional dan internasional.

