Indonesia Menyapa, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto dua kali mendapat kartu merah dari para mahasiswa.
Momen ini terjadi saat aksi demo mahasiswa di sejumlah daerah pada pekan ini.
Tribunnews.com mencatat setidaknya Prabowo dapat kartu merah dari BEM SI Jabar dan BEM Nusantara Sumsel.
Kartu merah ini diberikan karena rasa kecewa mereka terhadap Prabowo-Gibran serta atas kondisi negara Indonesia saat ini.
Untuk diketahui dalam dunia olahraga terutama sepak bola, kartu merah adalah bentuk hukuman tertinggi dari wasit yang mengharuskan seorang pemain, pemain cadangan atau staf pelatih segera keluar dari area pertandingan.
Pemain yang diberi kartu merah langsung dilarang melanjutkan permainan dan timnya tidak diperbolehkan memasukkan pemain pengganti sehingga tim tersebut harus bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.
BEM SI Jabar Acungkan Kartu Merah untuk Prabowo-Gibran, Bubarkan Program MBG!
Massa demonstrasi yang berasal dari sejumlah kampus di Jawa Barat berdemonstrasi di depan Gedung DPRD Jabar di Jalan Diponegoro No. 27, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Rabu (17/6/2026).
Ratusan demonstran ini mulai datang sekitar pukul 15.23 WIB.
Mereka long march dari kawasan Pusdai menuju DPRD Jabar.
Warna-warni jaket almamater menghiasi demonstrasi sore ini dengan cuaca yang cukup cerah.
Aparat kepolisian juga sudah bersiaga sejak siang hari dan menyambut para demonstran dan mempersilakan kepada para demonstran untuk berorasi terkait kondisi terkini Indonesia, mulai harga BBM yang naik hingga meminta program Makan Bergizi Gratis atau MBG untuk dibubarkan.
Polisi pun sudah bersiaga di depan gerbang DPRD Jabar dengan garda terdepannya ialah para polwan yang di bagian belakang rompinya bertuliskan negosiator.
Tak hanya itu, bagian para kepolisian beratribut lengkap dengan tameng dan helm pun bersiaga seolah mengepung para demonstran yang berada di tengah-tengah.
Kemudian, pengamanan pun dihadirkan kepolisian dengan menyimpan sejumlah kendaraan taktis seperti rantis atau water cannon.
Massa demonstran pun sempat mengeluarkan kartu berwarna merah sambil di tengah-tengahnya ada orang yang memakai topeng bergambar Prabowo-Gibran.
Mereka memberikan kartu merah terhadap Prabowo-Gibran atas kondisi negara Indonesia saat ini.
“Hari ini, kami melakukan aksi dari BEM SI Jabar di mana ada sekitar 23 kampus dengan estimasi massa 1200 orang.”
“Kami merasa kecewa dan ini akumulasi kemarahan kami yang menyampaikan aspirasi namun tak didengar sekaligus akumulasi dari pernyataan-pernyataan yang tak penting Prabowo sebagai presiden,” kata Ketua BEM SI Jabar, Risaldi.

Demo Depan Gedung DPRD Sumsel, Mahasiswa Beri Kartu Merah untuk Program Prabowo
Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara Sumsel gelar aksi di depan gedung DPRD Sumsel.
Ratusan mahasiswa itu mengeluarkan kartu merah sebagai simbol kekecewaan dan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Senin (15/6/2026).
Aksi unjuk rasa berlangsung damai tanpa adanya kericuhan.
Pantauan Sripoku.com, sekitar pukul 15.30 WIB aksi unjuk rasa selesai setelah Ketua DPRD Provinsi Sumsel Andie Dinialdi didampingi Abdullah Taufik menemui para mahasiswa.
Di sela-sela aksi, mereka sempat mengeluarkan kartu merah.
Aksi dilakukan di tengah jalannya orasi yang berlangsung bergantian dari perwakilan mahasiswa di depan gedung dewan.
Suasana demonstrasi dipenuhi sorakan dan yel-yel dari peserta aksi.
“Kami angkat kartu merah untuk program yang tidak mementingkan rakyat,” ujar koordinator aksi.

Adapun delapan tuntutan yang disuarakan mahasiswa, yakni:
1. Menyelamatkan nilai rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi nasional,
2. Membubarkan DPR jika aspirasi yang disuarakan tidak disampaikan,
3. Memberikan ultimatum kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Sumsel Herman Deru selselama 7 x 24 jam apabila tidak bisa menstabilkan hingga ke pelosok daerah,
4. Menolak program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap sebagai program yang prematur,
5. Mengesahkan Undang-Undang perampasan aset sebagai bentuk pemberantasan korupsi,
6. Mengecam kejahatan sipil yang dibawa ke peradilan militer, dan
7. Menolak tindakan represif aparat setiap ada aksi unjuk rasa yang dilakukan.
8. Mahasiswa berharap tuntutan yang mereka sampaikan dapat diteruskan dan mendapat tindak lanjut.
Ketua BEM Nusantara Sumsel, Ilham mengatakan, perwakilan mahasiswa menyoroti dugaan pemborosan anggaran pada sejumlah program pemerintah yang menurut mereka perlu dievaluasi.
Mereka juga mengkritisi pelaksanaan Program Koperasi Merah Putih yang dinilai belum berjalan optimal.
Selain itu, massa aksi menyinggung persoalan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kelangkaan solar dan Pertalite di sejumlah daerah, serta kenaikan harga Pertamax yang dianggap membebani masyarakat.
“Polanya seperti yang pernah terjadi sebelumnya, yang kami khawatirkan saat Pertamax dinaikkan kemudian Pertalite langka, takutnya Pertalite akan dihilangkan dari Republik ini,” katanya.
Mahasiswa juga menyoroti sejumlah persoalan sosial lainnya, termasuk kasus penyiraman air keras yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
Mahasiswa menegaskan aksi yang mereka lakukan murni untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan bukan kepentingan kelompok tertentu.
“Jangan sampai aktivis dikira antek asing. Kami turun menyampaikan aspirasi rakyat,” katanya.
Massa juga meminta DPRD Sumsel mengawal tuntutan yang telah mereka sampaikan.
Mereka memberi waktu kepada pihak terkait untuk merespons aspirasi tersebut.
Apabila tuntutan tidak ditindaklanjuti, mahasiswa mengaku akan melakukan konsolidasi untuk menggelar aksi yang lebih besar.
“Kami akan terus mengawal poin-poin tuntutan. Jika tidak ada tindak lanjut, kami akan melakukan konsolidasi untuk aksi yang lebih besar,” tandasnya.
Saat berita ini diturunkan, mahasiswa sudah membubarkan diri setelah semua tuntutan yang dibuat telah diterima oleh Ketua DPRD Provinsi Sumsel.
Selanjutnya tuntutan tersebut akan disampaikan ke DPR RI agar bisa dipertimbangkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

