Profesor UNJ Diskakmat Lagi, Ahli Forensik Dokumen Sebut Keaslian Ijazah Jokowi yang Tentukan Hakim

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Pernyataan Ahli Forensik DokumenRaden Mas Hendro Diningrat, secara tidak langsung mematahkan pernyataan sosiolog hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Ciek Julyati Hisyam.

Sebelumnya, Ciek Julyati Hisyam meyakini bahwa ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) adalah palsu.

Di tempat dan waktu yang berbeda, Raden Mas Hendro Diningrat menegaskan bahwa yang berhak memutuskan asli atau palsunya ijazah Jokowi hanyalah hakim, bukan pihak kampus ataupun tokoh-tokoh.

Hendro menegaskan bahwa putusan hakim merupakan hal mutlak dalam menentukan asli atau palsunya suatu ijazah.

“Yang menyatakan, mengesahkan (ijazah) asli atau palsu kejaksaan atau hakim. Bukan (UGM),” kata Hendro dalam tayangan YouTube iNews, Rabu (10/12/2025).

Hendro menjelaskan, setiap keterangan oleh instansi apa pun yang menyatakan bahwa itu ijazah asli atau palsu, hal tersebut belum menjamin apakah ijazah itu benar-benar asli atau palsu.

Itu juga berlaku kepada seorang tokoh yang menyebut bahwa itu adalah ijazah asli atau palsu, hal itu belum menjamin asli atau palsu.

Mantan perwira Polri itu menegaskan bahwa yang berhak menyatakan asli atau palsunya ijazah adalah hakim.

“Keterangan instansi mengatakan ini (ijazah) asli, itu belum menjawab bahwa ini asli atau palsu,” tutur Hendro.

“Dikatakan asli oleh seorang tokoh misalnya, itu belum menjawab,” imbuhnya.

Menurut Hendro, proses pemalsuan dokumen termasuk ijazah merupakan hal yang berbahaya karena menentukan reputasi seseorang.

“Proses forgery document atau pemalsuan dokumen itu sangat bahaya, menentukan nasib seseorang,” ujar Hendro.

Dalam kasus ijazah Jokowi, Hendro menilai, pernyataan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ova Emilia yang menyebut ijazah Jokowi asli pun belum tentu benar.

“Ketika UGM menyatakan bahwa ijazah Pak Jokowi asli maka itu tidak serta-merta bisa dilakukan bahwa itu asli,” ucap pengakuannya.

Berikut pernyataan Ciek Julyati Hisyam yang secara tak langsung kena skakmat oleh pernyataan Hendro.

Prof. Ciek Julyati Hisyam meyakini bahwa ijazah S1 UGM milik Jokowi adalah palsu.

Guru besar UNJ itu menilai jika ijazah Jokowi asli maka seharusnya ia berani menunjukkan ijazahnya ke hadapan publik.

“Kalau saya meyakini (ijazah Jokowi) itu palsu. Kalau memang itu betul ada aslinya, pasti berani siapapun akan menunjukkan,” kata Ciek, dikutip dari tayangan di kanal YouTube tvOneNews, Selasa (2/11/2025).

Guru besar UNJ tersebut juga menyoroti materai berwarna hijau yang berada di ijazah Jokowi yang salinannya dibawa oleh wakil ketua umum Jokowi Mania (JoMan), Andi Azwan.

Menurut dia, hal tersebut merupakan janggal karena di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985, tidak pernah dinyatakan ada materai seperti di ijazah Jokowi itu.

“Yang didasarkan di sana adalah bahwa materai itu tadi cetakan utamanya itu adalah ungu,” kata Ciek.

“Warna hijau yang dikemukakan di situ adalah hanya untuk gambar Garuda. Jadi bukan keseluruhannya,” imbuhnya.

Ciek mengaku bahwa dirinya juga lulusan tahun 1985 seperti Jokowi, tetapi berbeda kampus.

Ia merupakan lulusan IKIP Jakarta dan menurutnya saat itu tidak ada materai yang berwarna hijau pada ijazah.

“Saya juga lulusan tahun itu, tapi enggak tuh, warnanya enggak hijau,” kata Ciek.

“Kalau memang semua ijazah pada tahun itu harus menggunakan materai, tentu sama materainya,” jelasnya.

 

Sebelumnya diskakmat ketua angkatan Jokowi di UGM

Mustoha Iskandar, ketua angkatan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1980 menegaskan bahwa ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menggunakan materai berwarna hijau, bukan merah sebagaimana disinggung oleh Prof. Ciek Julyati Hisyam.

Mustoha dan Jokowi adalah teman satu angkatan di Fakultas Kehutanan UGM. Keduanya sama-sama masuk UGM pada tahun 1980 dan diwisuda pada 1985.

Mustoha saat ini dipercaya sebagai ketua angkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980.

Mustoha Iskandar memastikan bahwa seluruh lulusan Fakultas Kehutanan UGM dari angkatan yang sama dengan Jokowi mendapat ijazah dengan jenis materai yang serupa.

Hal tersebut sudah ia cocokkan dengan dokumen kelulusannya dan milik rekan-rekan seangkatannya.

“Materainya warnanya hijau, bukan merah,” kata Mustoha Iskandar, dikutip dari tayangan di kanal YouTube Official iNews, Sabtu (6/12/2025).

Mustoha menyebut bahwa UGM melakukan wisuda empat kali setiap tahunnya.

Menurut dia, seluruh angkatan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, tidak ada yang wisuda pada Februari.

Ijazah bermaterai merah diperuntukkan bagi mahasiswa yang wisuda pada Februari.

“Jadi di Gadjah Mada itu ada empat kali wisuda. Ada Februari, Mei, Agustus, dan November. Angkatan 1980 nggak ada yang wisuda Februari, yang merah itu nggak ada,” tegasnya.

Mustoha menegaskan bahwa mahasiswa Fakultas Kehutanan yang diwisuda bersamaan dengan Jokowi dipastikan ijazahnya bermaterai hijau.

Jokowi sendiri wisuda pada tanggal 5 November 1985.

“Jadi yang bareng wisuda Pak Jokowi itu hijau materainya, semuanya hijau,” ucapnya.

“Kalau bilang merah berarti bukan angkatan 1980, apalagi sama-sama wisuda Pak Jokowi, itu bohong,” imbuhnya.

 

Sosok Prof. Ciek Julyati Hisyam

Ciek Julyati Hisyam adalah dosen sekaligus guru besar di Universitas Negeri Jakarta atau biasa dikenal UNJ. UNJ terletak di Rawamangung, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Ia berfokus mengajar pada konsentrasi studi kriminologi, sosiologi perilaku menyimpang, dan sosiologi hukum.

Dikutip dari buku berjudul Sistem Sosial Budaya Indonesia, Ciek Juliyati Hisyam lahir di Jakarta pada 12 April 1962.

Ia menempuh studi S1 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial IKIP Jakarta. Pada Juli 1986, Ciek lulus.

Pada 2000, Ciek menyelesaikan pendidikan S-2 pada program studi Keuangan Pascasarjana IPWI.

Selain itu, Ciek juga telah merampungkan pendidikan S-2 pada prodi Kriminologi Program Pascasarjana UI (Universitas Indonesia) dengan predikat cum laude pada 2005.

Pada 2011, Ciek Julyati Hisyam berhasil menyelesaikan pendidikan S-3 pada program studi Sosiologi Program Pascasarjana UI.

Ciek Hisyam sudah menjadi dosen tetap di UNJ sejak 1987.

Pada Juni 2025, ia lalu dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Sosiologi Perilaku Menyimpang di UNJ.

Nama lengkap berikut dengan gelarnya adalah Prof. Dr. Hj. Ciek Julyati Hisyam, M.M., M.Si.

 

Rekam jejak Raden Mas Hendro Diningrat

Raden Mas Hendro Diningrat adalah mantan anggota Polri yang menjadi Ahli Forensik Dokumen.

Pangkat terakhir Hendro yaitu Ajun Komisaris Polisi atau AKP.

Pangkat itu berada dalam kepangkatan perwira pertama di Polri dengan lambang 3 balok emas.

Hendro tercatat pernah mengabdi selama delapan tahun di Mabes Polri dan empat tahun di Polda Bali.

Ia memiliki pengalaman yang panjang dalam menangani berbagai kasus forensik dokumen.

Hal itu membuatnya dikenal sebagai sosok berintegritas tinggi dan memiliki ketajaman analisis yang tajam.

Setelah meninggalkan kepolisian, Hendro melanjutkan kariernya di sektor swasta.

Ia menjabat sebagai Komisaris di PT CNA, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyelidikan.

Selain itu, ia menjadi tenaga ahli di berbagai perusahaan swasta seperti PT Sys Integra, PT Global Arrow, dan PT Selaras.

Tidak hanya itu, Hendro juga membentuk lembaga bernama FBI (Forensic Business Investigation), yang fokus pada investigasi bisnis dan analisis dokumen forensik.

Hendro memiliki keahlian dalam hal pemeriksaan dokumen, grafonomi, dan deteksi pemalsuan.

Ia tercatat pernah menjadi saksi ahli dalam berbagai perkara penting, baik pidana maupun perdata.

Beberapa kasus besar yang pernah ditanganinya antara lain kasus Melinda Dee dan PT El Nusa yang ditangani Bareskrim, kasus Bank Mega, serta perkara yang melibatkan tokoh-tokoh publik seperti Artalyta dan Gayus.

 

Sumber: Profesor UNJ Diskakmat Lagi, Ahli Forensik Dokumen Sebut Keaslian Ijazah Jokowi yang Tentukan Hakim – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *