Indonesia Menyapa, Bali — Ketua Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdullah, mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan makanan berbahan dasar kakao untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Soetanto mengatakan usulannya itu berdasarkan temuannya di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jember, Jawa Timur.
Dia mengatakan ada dapur MBG di Jember yang memanfaatkan peternakan sapi perah yang hasil susunya dimanfaatkan untuk program MBG.
Ia berharap pemerintah turut memaksimalkan potensi yang sama terhadap komoditas kakao.
“Saya lihat ada dapur MBG di daerah saya di mana teman saya punya dapur dan punya peternakan. Susunya itu dimasukkan dalam paket MBG itu.”
“Lalu kenapa tidak kalau semisal tidak ada susu di situ bisa diganti dengan cokelat,” katanya di Denpasar, Bali, Senin (24/11/2025).
Soetanto mengatakan jika pemerintah memaksimalkan potensi komoditas kakao, maka dapat pula meningkatkan kesejahteraan petani kakao karena masifnya permintaan untuk program MBG.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa olahan kakao yang dilakukan di dalam negeri masih sedikit karena keterbatasan pabrik yang ada.
Dia mengatakan hal tersebut bisa dilakukan secara bertahap alih-alih secara langsung.
Soetanto mengungkapkan sudah ada beberapa sentra pengolahan kakao di berbagai daerah di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk program MBG.
“Kalau misalnya nanti satu dua seperti itu (menggunakan olahan kakao untuk MBG), yang sudah bisa itu seperti Bali, Batu, Surabaya juga ada”.
“Artinya minimal di sentra yang dekat dengan pabrik UMKM itu. Memang belum semua bisa,” katanya.
MBG Gunakan Susu Segar di Daerah Dekat Peternakan
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan penggunaan susu dalam menu MBG hanya diberlakukan bagi wilayah yang dekat dengan peternakan sapi perah.
Dia mengatakan jika wilayah tersebut tidak ada peternakan sapi, maka tidak perlu dipaksakan.
“Daerah yang tidak memiliki peternakan sapi perah atau logistiknya jauh dan susah maka tidak perlu dipaksakan, bisa ada telur atau kelor,” kata Dadan pada 23 Desember 2024 lalu, dikutip dari siaran pers BGN.
“Tapi dengan daerah-daerah peternakan sapi perah yang cukup maka itu menjadi bagian dari Makan Bergizi Gratis,” tambahnya.
Terpisah, Tim Pakar Bidang Susu BGN sekaligus Guru Besar Ilmu Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB, Epi Taufik menjelaskan bahwa susu dijadikan salah satu menu MBG karena mengandung nutrisi unik bagi penerima manfaat.
“Susu memberikan 13 zat gizi esensial, termasuk kalsium, protein, dan vitamin D, yang tidak bisa tergantikan oleh satu jenis makanan lain. Ini bukan hanya soal minuman tapi tentang membangun fondasi gizi anak Indonesia,” ujar Epi pada 13 Oktober 2025 lalu.
Epi menjelaskan, fase pertumbuhan tercepat anak terjadi pada usia 9 hingga 12 tahun pada saat itu periode ketika kebutuhan kalsium dan protein meningkat tajam.
“Dari hasil penelitian, kontribusi kalsium dari makanan sehari-hari baru sekitar 7 hingga 12 persen dari kebutuhan harian.”
“Karena itu, tambahan kalsium dan vitamin D dari susu menjadi sangat penting untuk mencapai pertumbuhan optimal,” kata Epi.

