Indonesia Menyapa, Gunung Kidul — Gebyar Keistimewaan dalam rangka peringatan 13 tahun Undang-undang Keistimewaan (UUK) Daerah Istimewa Yogyakarta digelar di Alun-alun Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, 30-31 Agustus 2025.
Kegiatan menjadi ajang perayaan budaya sekaligus menghadirkan ruang pemberdayaan ekonomi lokal dengan melibatkan 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Produk yang ditampilkan mencerminkan potensi daerah, mulai dari makanan olahan khas, minuman tradisional, hingga hasil kerajinan tangan. Bagi para pelaku usaha, kesempatan ini menjadi sarana penting untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk lokal secara lebih luas.
Satu di antaranya, pelaku UMKM ‘Esyang Buah Asli’ milik Yanti (30) warga Kabupaten Bantul.
Dirinya mengaku senang dan bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang didanai oleh dana keistimewaan tersebut.
“Bagi kami ini sebagai jembatan promosi untuk memperkenalkan produk lebih luas lagi, terlebih di Gunungkidul karena kami belum pernah ke sini. Alhamdulillah lewat kegiatan ini, kami bisa mengenalkan lansung produk ke warga di sini,” tuturnya saat ditemui di stand-nya,.pada Minggu (31/8/2025).
Ia mengatakan produk yang dibawa merupakan produk olahan buah segar yang dibuat menjadi es krim dan minuman sehat.
“Jadi, kami memang menyajikan produk sehat yang terbuat dari buah-buahan segar. Kemudian, kami olah menjadi es krim dan minuman dengan berbagi varian rasa,” ucapnya.
Dia mengaku selama dua hari membuka stand, antusiasme pengunjung sangat tinggi. Banyak warga datang berkelompok bersama keluarga untuk mencicipi bahkan membeli produk yang dijual.
“Mulai ramainya sejak sore kemarin, dan hari ini lebih ramai lagi. Alhamdulillah, banyak yang terjual,” terangnya.
Hal serupa juga disampaikan Yulia (20), anggota kelompok Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Prima) Gumregah, Kalurahan Putak, Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Pihaknya membawa produk unggulan desanya yakni Bolu Kelapa.
“Awal perjalanan pembuatan Bolu Kelapa, kami juga sudah dibantu lewat dana keistimewaan. Dan hasilnya, kaum perempuan terutama ibu rumah tangga sekarang sudah memiliki penghasilan sendiri,” terangnya.
Dia mengatakan kegiatan semacam ini selain menjadi peluang untuk peningkatan penjualan dan promosi, juga sebagai wadah menjalin relasi.
“Kami dapat menjalin relasi baru dengan konsumen maupun sesama pelaku usaha. Dan, paling utama itu membuat produk lokal semakin dikenal luas,” tuturnya.
Dirinya pun berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan rutin untuk para pelaku UMKM.
“Kami berharap pemberdayaan UMKM bisa dilakukan dengan rutin. Karena, sangat merasakan dampaknya terutama lebih dikenal masyarakat,” bebernya.
Sementara itu, Paniradya Pati Keistimewaan DIY Aris Eko Nugroho mengatakan melalui kegiatan ini pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan program serupa agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami berharap UMKM semakin mandiri, produk lokal makin dikenal luas, dan pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah DIY,” kata Aris.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi , UMKM, dan tenaga kerja (DPKUKMTK) Gunungkidul Supartono menambahkan keterlibatan UMKM dalam Gebyar Keistimewaan menjadi langkah nyata memperluas akses pasar.
“Kegiatan ini tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga membuka jejaring baru bagi pelaku usaha. Harapannya, setelah acara selesai, hubungan antara UMKM dengan konsumen maupun mitra usaha bisa terus terjalin,” urainya.
Sumber: Gebyar Keistimewaan di Gunungkidul Jadi Ruang Pemberdayaan Ekonomi Lokal UMKM – Tribunjogja.com

