Korban Tewas Kian Bertambah, Prancis Tuduh Azerbaijan Dalangi Kerusuhan di Kaledonia Baru

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta – Jumlah korban tewas akibat kerusuhan di Kaledonia Baru terus bertambah. Satu orang lagi tewas di wilayah Kepulauan Pasifik itu ketika petugas keamanan berusaha memulihkan ketertiban.

Jumlah korban tewas menjadi enam orang dalam kerusuhan yang terjadi selama hampir sepekan terakhir. Pasukan keamanan Prancis melaporkan kematian keenam pada hari Sabtu dalam bentrokan bersenjata. Kerusuhan terjadi setelah Prancis berencana memberlakukan aturan pemungutan suara baru yang dapat memberikan hak memilih kepada puluhan ribu penduduk non-Pribumi.

Menteri Kaledonia Baru, Vaimu’a Muliava mengatakan wilayahnya dalam kondisi rusak parah. “Anda hanya menghukum diri sendiri,” katanya tentang pelaku perusuhan.

Menurut pejabat keamanan setempat, korban keenam tewas dalam baku tembak di barikade di Kaala-Gomen, di utara pulau utama.

Pada Jumat, 17 Mei 2024, Prancis menuduh Azerbaijan menjadi dalang kerusuhan di pulau Kaledonia Baru. Azerbaijan membanjiri media sosial dengan foto dan video menyesatkan yang menargetkan polisi Prancis.

Badan pengawas pemerintah Prancis mengatakan kampanye menyesatkan itu diberitakan oleh Viginum, sebuah unit yang dibentuk sebagai respons terhadap aktivitas Rusia di Afrika. Viginum menerbitkan sebuah laporan pada hari Jumat yang mengidentifikasi akun media sosial Azeri yang menyebarkan propaganda anti-Prancis.

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin pertama kali melontarkan tuduhan terhadap Azerbaijan pada hari Kamis, tanpa memberikan bukti apa pun. Kementerian luar negeri Azerbaijan dengan cepat membantah apa yang disebutnya tuduhan menghina. Azerbaijan menegaskan kembali pada hari Jumat bahwa tuduhan itu tidak ada hubungannya dengan protes di Kaledonia Baru.

“Daripada menuduh Azerbaijan mendukung protes pro-kemerdekaan di Kaledonia Baru, Prancis harus fokus pada kegagalan kebijakan negaranya terhadap wilayah luar negeri yang menyebabkan protes tersebut. Kami sekali lagi menyerukan Prancis untuk menghentikan klaim tidak berdasar terhadap negara kami,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Aykhan Hajiyev.

Viginum mengatakan kampanye tersebut mencakup montase gambar yang menunjukkan pengunjuk rasa pro-kemerdekaan tewas di samping seorang pria kulit putih berpakaian khaki dengan senapan dalam posisi menembak. Gambar tersebut diberi judul “Polisi Prancis adalah pembunuh”.

Viginum mengatakan setidaknya 86 unggahan di platform media sosial X, sebelumnya Twitter, diterbitkan oleh profil orang-orang yang memiliki koneksi ke partai kepresidenan YAP yang berkuasa di Azerbaijan. Mereka menggunakan tagar #RecognizeNewCaledonia dan #FrenchColonialism.

“Pada tanggal 15 dan 16 Mei, Viginum mendeteksi di X dan Facebook adanya penyebaran konten secara besar-besaran dan terkoordinasi yang jelas-jelas tidak akurat dan menyesatkan, menuduh polisi Prancis membunuh pengunjuk rasa pro-kemerdekaan di Kaledonia Baru,” kata laporan tersebut>

Azerbaijan tahun lalu merebut kembali wilayah Karabakh, tempat etnis Armenia menikmati kemerdekaan de facto sejak awal tahun 1990an.
Prancis, yang memiliki komunitas etnis Armenia yang besar, bersimpati terhadap Armenia dan menyediakan peralatan militer. Mereka meminta Baku untuk memberikan klarifikasi pada bulan November tentang kampanye yang menargetkan Olimpiade.

Menurut para pejabat, kampanye di Kaledonia Baru telah berlangsung selama beberapa bulan. Azerbaijan bahkan mengorganisir jaringan anti-Prancis di lapangan, termasuk melalui pendanaan acara.

 

Sumber: Korban Tewas Bertambah, Prancis Tuduh Azerbaijan Dalangi Kerusuhan di Kaledonia Baru – Dunia Tempo.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *