Tingkatkan Produksi Jagung di NTT, Sejumlah Penangkar Mendapat Pelatihan dari BPTP NTT dan Prisma

Naibonat,Indonesia Menyapa.com
Sejumlah kelompok penangkar jagung dari 9 kabupaten di NTT mendapatkan pelatihan terkait strategi dan tehnik meningkatkan produksi pembenihan jagung di NTT . Hal tersebut dilakukan dikarenakan produksi jagung di NTT masih terbilang rendah rata-rata 2,6 ton/Ha (BPS NTT, 2015) dan belum mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Pelatihan yang di lakukan oleh BPTP Balitbangtan NTT dan Dinas Pertanian Provinsi NTT yang di dukung oleh Prisma untuk para penangkar dengan tujuan agar dapat memotivasi para penangkar jangung dapat membuat pembenihan yang lebih baik.
Bersama BPTP dan Dinas pertanian NTT, Prisma dengan program kemitraan Australia dan Bappenas ingin mengentaskan kemiskinan melalui sektor pertanian di desa dan di 6 Provinsi.
Kegiatan pelatihan merupakan rangkaian dari intervensi dan kerjasama yang dilakukan dengan BPTP NTT dan Dinas Pertanian Provinsi NTT dengan tujuan mengembangkan kapasitas penangkar lokal di NTT supaya nantinya penangkar bisa memiliki kapasitas produksi yang besar.

Suandi darmawan yang merupakan head of portgolio di Prisma, menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di sela – sela kegiatan pelatihan kepada para penangkar jagung di Aula BPTP NTT, Rabu (11/9/2019). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut, Suandi Darmawan mengatakan petani dapat berkembang apabila bisa mendapatkan layanan teknologi atau informasi, inovasi dari para pelaku bisnis di komoditi pertanian dan juga nantinya apabila para penangkar sudah memiliki kapasitas produksi yang baik maka ke depannya dapat pula memasarkan benih komposit kepada petani sehingga petani juga dapat meningkatkan produksi jagung yang lebih besar.

Menurut Suandi tujuan dilakukan pelatihan kepada penangkar dan berkolaborasi dengan BPTP dan dinas pertanian adalah untuk membesarkan kapasitas dari UPT perbenihan dan juga merapikan atau membuat strategi yang lebih luas dari produksi jagung.
” kegiatan ini merupakan sebagian kecil dari rangkaian rencana kerja intervensi. dan dalam hal ini kami juga tidak mengundang semua penangkar namun kami hanya memilih penangkar yang potensial sehingga dapat menyerap ilmu baru agar dapat mengaplikasikan ke bisnis mereka, “. Jelas Suandi.

Lebih lanjut Suandi sampaikan bahwa kegiatan yang di gelar bukan yang terakhir namun akan berkelanjutan dan juga dari pihak Prisma mengharapkan, bisa mendapatkan masukan dari penangkar sehingga nantinya dari pihak Prisma maupun BPTP dapat mengkoordinasikan dengan pemerintah.

Dikesempatan yang sama pihak BPTP Balitbangtan NTT, yang di wakili oleh peneliti Dr. ir.Tony Basuki, M.Si menyampaikan bagaimana peran dan kerjasama BPTP NTT dan Prisma, yakni dari segi tekhnis yang nyata. BPTP sendiri mempunyai benih yang berkelas dimana dari benih yang berkelas tersebut dapat diberikan kepada penangkar dan juga BPTP senantiasa memberikan suport dari segi tekhnologi.

” kami dari pihak BPTP dari segi tehknologi senantiasa memberikan suport kepada para penangkar agar dapat memiliki benih jagung yang bagus agar dapat meningkatkan produksi jagung sehingga, NTT yang identik dengan Provinsi jagung benar – benar terjawabkan. “. Kata Tony

Menurut Tony Basuki, BPTP Balitbangtan NTT mempunyai dua garda yakni mengamankan Foods Security dan membawa NTT suplay jagung serta sebagai industri pakan. Karena BPTP sendiri mempunyai fungsi menyuplay benih label putih agar dapat menjaga kualitas benih.
” petani harus berpikir bersama pemerintah dan lembaga terkait sehingga mimpi kita untuk kecukupan pangan dan juga sebagai suplayer dapat terjawabkan.” Jelas Tony Basuki.
Peniliti handal dari BPTP tersebut juga berharap dalam program dan kerjasama jangka pendek dapat menghasilkan produsen atau penangkar yang berkualitas dan berintegritas. Tony Basuki juga menyampaikan bahwa para penangkar dapat memamfaatkan moment pelatihan karena dari BPTP benar – benar serius membantu penangkar dalam meningkatkan produksi pembenihan jagung.

Agustinus Bria Seran,Perwakilan dari Kabupaten Timor Tengah Utara yang merupakan Salah satu peserta yang hadir pada kegiatan pelatihan sosialisasi tersebut ketika di konfirmasi awak media terkait keikutsertaannya dalam pelatihan mengatakan bahwa, seusai mengikuti pelatihan, dirinya selaku staf bisnis perbenihan jagung di yayasan mitra tani mandiri TTU, akan memperluas area produksi di musim tanam pertama, memperbaiki mutu benih dan juga akan memperbaiki sistem budidaya sehingga populasi tanaman untuk perbenihan dapat di tingkatkan.

” kami sebagai penangkar mengakui kalau kemampuan petani untuk produksi benih belum terampil oleh sebab itu perlu pendampingan, dan juga kegiatan pelatihan yang dilakukan ini sangat positif sehingga diharapkan bisa berlanjut dikarenakan kami mendapatkan nilai positif dan juga kami para penangkar bisa saling mengenal dan dapat berbagi informasi, kami juga berterimakasih kepada BPTP NTT dan Prisma, serta dinas pertanian yang sudah mengelar pelatihan ini sehingga kami para penangkar dapat menambah wawasan dan pengetahuan, dan ketika kami pulang dapat merubah sistem kerja karena tanggung jawab perbenihan adalah pihak penangkar. ” Kata Agustinus Bria Seran.

Selain itu juga ketua pelaksana pelatihan dan juga peneliti dari BPTP NTT, Ir.Evert Y. Hosang.M.si.P.Hd. menjelaskan bahwa sebenarnya pengembangan jagung di NTT adalah tugas dari dinas pertanian. BPTP sendiri dalam pelaksanaan pelatihan untuk penangkar, mendapat mandat dari kementerian untuk mengatur benih di NTT sehingga permasalahan dalam peningkatan produksi jagung dapat di atasi. BPTP berkolaborasi dengan Dinas pertanian dan di dukung oleh Prisma sebagia mediator ,memfasilitasi kegiatan dengan mendatangkan peserta dan Prisma dalam hal ini juga mempunyai program untuk membantu perbenihan di NTT .

” Tujuan di lakukan pelatihan ini agar dapat memperkuat penangkar yang ada di 9 Kabupaten dan petugas kebun dari dinas pertanian serta kami juga mengajarkan bagaiamana tekhnik perkebunan yang baik, menambah pengetahuan dan keahlian mereka tentang bagaimana sertifikasi, sedangkan datri BPTP sendiri mengajarkan bagaimana tekhins budidaya dan pasca panen. ” jelas Evert.

Dikatakan pula bahwa tindak lanjut dari pelatihan ini adalah dapat menyepakati kebutuhan benih dan akan membuat konsep yang nantinya akan di tawarkan kepada Gubernur sehingga dapat dibuatkan dalam bentuk Pergub untuk membantu para penangkar.
(Cp) .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *