Pesparani Harus Punya Dampak Untuk Kesejahteraan Masyarakat

NTT, Indonesia menyapa. Com
Kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional yang akan berlangsung di Kota Kupang Tahun 2020 tidak boleh hanya sekadar buat NTT terkenal tapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapan itu disampaikan oleh Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat menyampaikan arahan pada pertemuan awal Persiapan Pesparani Katolik Nasional II Tahun 2002 di Ruang Rapat Asisten Setda NTT, Jumat (17/5).

“Saya coba menjembatani dan menterjemahkan keinginan serta arahan Gubernur NTT (Viktor Laiskodat) agar penyelenggaraan kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam untuk 50 tahun ke depan. Permintaan ini mesti dimakanai dalam visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera. Even-even tahunan baik itu tingkat provinsi maupun nasional tidak sekadar dilakukan karena sudah direncanakn dan anggarannya ada.Gubernur tidak mau seperti itu ,” jelas Julie dalam kesempatan tersebut.

Menurut Julie Laiskodat, pelaksanaan even nasional tersebut tidak juga sekadar dilaksanakan secara mewah dan gagah-gagahan. Bukan pula untuk menghabiskan anggaran besar sehingga membekas dalam ingatan peserta dan mengangkat nama NTT. Itu hanya satu aspek saja yakni NTT Bangkit, nama NTT mencuat. Sementara aspek sejahteranya tidak nampak.

“Jujur saja, Pak Gubernur punya mau sangat gampang. Gubernur tidak mau kita lakukan ini hanya untuk (menyenangkan) Presiden atau Gubernur. Dia tidak mau itu. Beliau tidak mau hanya satu unsur ditonjolkan. Setiap program atau kegiatan harus mencakup dua hal ini sekaligus yakni bangkit dan sejahtera. Bangkitnya berarti nama NTT terkenal, benar. Tapi sejahteranya harus dapat, terutama untuk masyarakat. Itu tujuan yang diinginkan Gubernur,” jelas Julie.

Dalam kaitannya dengan itu, Ketua Tim Penggerak PKK NTT itu menegaskan semua perangkat daerah, swasta, TNI/Polri dan mitra-mitra terkait lainnya harus terlibat secara aktif. Tidak hanya menjadi tanggung jawab panitia. Karenanya dalam kesempatan tersebut, Julie langsung melakukan presensi terhadap peserta yang hadir mengikuti rapat.

“Hajatan ini adalah hajatan nasional. Kita tidak boleh sekadar duduk saja. Tapi harus melakukan persiapan yang matang dari waktu ke waktu. Kita sudah berusaha keras untuk menjadi tuan rumah. Setelah dapat (penunjukan tuan rumah), itu menjadi utang dan pekerjaan berat kita . Kita tidak boleh sia-siakan perjuangan ini. Kita harus bergandengan tangan untuk sukseskan acara ini,” jelas Julie.

Lebih lanjut, Julie meminta agar semua pihak yang terlibat untuk bekerja _out of the box_, bukan _in the box_. Harus mulai terbiasa dengan standar nasional bahkan internasional. Jangan pakai ukuran yang biasa kita lakukan selama ini. Ia mengharapkan agar renovasi arena-arena tidak hanya berorientasi untuk sukseskan Pesparani tetapi juga untuk kepentingan pelayanan publik di NTT yang lebih baik ke depannya.

“Minggu lalu (Kamis, 9/5), saya meninjau venue-venue (arena-arena) yang direkomendasikan namun semuanya belum layak untuk perhelatan akbar ini. Saya minta selama satu tahun ke depan ini, tolong diatur dan direncanakan anggarannya seperti apa. Kalau mau renovasi, harus berpikir tidak hanya untuk sukseskan acara ini, tetapi juga supaya standar kita NTT naik. Terutama untuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Parkiran, tangganya harus ramah dengan mereka. Saya minta Bappeda memperhatikan secara serius hal ini,” jelas Julie.

Di akhir arahannya, Anggota Dewan Pengarah dalam struktur Kepanitiaan Pesparani Nasional 2020 itu juga meminta agar kegiatan tersebut juga bisa menggerakan sektor pariwisata yang menjadi _prime mover_ ekonomi NTT. Ribuan manusia yang datang tidak mungkin hanya untuk mengikuti acara tersebut. Mereka juga pasti akan caritahu tentang NTT, khususnya Kota Kupang punya apa saja.

“Pariwisata bersama Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), tolong pikirkan paket tour yang simpel dan terjangkau supaya mereka punya pilihan untuk pesiar di sini. Kalau 12 sampai 15 ribu orang yang datang, harus juga perhatikan penginapannya. PUPR Provinsi dan Kota Kupang harus bisa petakan mana yang bisa dibedah rumahnya untuk homestay karena jumlah kamar hotel kita tidak cukup . UMKM, Koperasi dan Perdagangan harus juga pikirkan mereka mau makan apa, ole-ole yang bisa mereka bawa pulang apa saja. Petakan semua kelompok UMKM, supaya kita jualan juga agar sejahteranya kita dapat,” pungkas Julie.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Pesparani Nasional, Jamaludin Ahmad dalam arahannya menyatakan, pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas persiapan sekaligus menjawab kepercayaan dari pemerintah pusat terhadap NTT dalam menyukseskan acara akbar tersebut. Kegiatan ini sesuai harapan dari Gubernur harus bisa lebih baik dan hebat dari penyelenggaraan pertama di Ambon.

“Even ini harus punya multiplier efek terutama pariwisata sebagai prime mover dan harus terkoneksi dengan Visi NTT Bangkit menuju Sejahtera. Semua perangkat daerah dan elemen terkait harus bergandengan tangan. Kita akan keluarkan surat resmi supaya semua perangkat daerah mulai memasukan perencanaan dan penganggaran untuk menyukseskan acara ini. Acara ini harus punya dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,”jelas Ketua PWNU NTT itu.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) NTT, Frans Salem menyatakan, komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan Pesparani Nasional di Kupang yang terhebat, sudah viral di mana-mana . Karenanya banyak orang yang mau datang dan mengikuti kegiatan ini nantinya.

“Secara nasional juga, Pesparani di NTT memberikan warna tersendiri saat Gubernur menunjuk ketua PWNU NTT sebagai ketua panitianya. Artinya pesparani adalah (medium) merajut persaudaraan sejati. Kita ingin NTT siapkan diri dengan baik karena banyak sekali orang yang akan datang ke NTT untuk buktikan bahwa NTT ingin jadi tuan rumah terbaik 50 tahun ke depan,” jelas mantan Sekda NTT tersebut.

Sementara itu Sinun Petrus Manuk selaku Ketua Tim 15 yang dibentuk Ketua Panitia Pesparani Nasional mengatakan, waktu pelaksanaan Pesparani Nasional 2020 dimulai tanggal 28 Oktober. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 12 ribu orang.

“Semua perangkat daerah akan dilibatkan dalam kepanitiaan. Begitu juga umat dari berbagai agama diikutsertakan ,” tutup Sinun Manuk.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut pimpinan dan utusan perangkat daerah lingkup pemerintah Provinsi NTT, TNI/POLRI, Badan Intelejen Daerah, unsur dari Keuskupan Agung Kupang, GMIT, instansi vertikal di NTT, kalangan perguruan tinggi, perwakilan BUMN/BUMD,Asita, PHRI, HPI, insan pers dan undangan .
Laporan : CP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *