Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Di NTT Alami Penurunan Sebesar -3,12 Persen

Kupang, Indonesia menyapa. Com
Potret pertumbuhan produksi industri manufaktur di Provinsi NTT triwulan I tahun 2019 mengalami penurunan sebesar -3,12 persen dibanding triwulan IV tahun 2018 dan juga pertumbuhan (y-on-y) triwulan I tahun 2019 terhadap triwulan I tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar 8,56 persen.

Sedangkan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil (q-to-q) triwulan I tahun 2019 naik sebesar 2,08 persen dibanding triwulan IV tahun 2018 dab pertumbuhan (y-on-y) triwulan I tahun 2019 terhadap triwulan yang sama tahun 2018 NTT naik sebesar 18,41 persen.

Hal ini disampaikan kepala Badan Pusat statistik Provinsi NTT, Maritje Pattiwaelapia kepada wartawan kamis ( 2 /5/2019) di kantor BPS Provinsi NTT . Disampaikan bahwa penurunan pertumbuhan produksi IBS NTT pada triwulan I tahun 2019 sebesar – 3,12 persen tersebut dipengaruhi oleh kontribusi pertumbuhan negatif dari hampir seluruh jenis industri yaitu industri manufaktur minuman sebesar -18,99 persen, industri manufaktur barang galian bukan logam sebesar – 8,07 persen dan industri manufaktur makanan sebesar – 0,24 persen.
Selain itu lanjut Maritje, industri manufaktur furnitur mengalami peningkatan sebesar 8,37 persen, sedangkan pertumbuhan IBS secara (y-on-y) mengalami kenaikan sebesar 8,56 persen, hal tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan positif pada industri manufaktur barang galian bukan logam yang mengalami kenaikan sebesar 17,21 persen, industri manufaktur minuman sebesar 12,13 persen dan industri manufaktur makanan sebesar 6,72 persen.

“sesuai hasil data olahan survei IBS bulanan, pada triwulan I tahun 2019 produktifitas tenaga kerja sektor industri manufaktur besar dan sedang di NTT mengalami penurunan sebesar -43,47 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 27,17 juta rupiah per tenaga kerja selama triwulan IV tahun 2018 menjadi 15,36 juta rupiah per tenaga kerja selama triwulan I tahun 2019. Jadi jika dilihat menurut jenis industri manufaktur, maka produktifitas tenaga kerja tertinggi dalam kurun waktu triwulan I tahun 2019 adalah sektor industri manufaktur barang galian bukan logam yaitu sebesar Rp 24,86 juta per tenaga kerja.” Pungkas Maritje. (CP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *