Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Sebagai Pilar Kemandirian Bangsa

KupangIndonesia Menyapa.com
Gerakan Pemberdayaan ekonomi sebagai pilar kemandirian Bangsa mempunyai makna yang sangat dalam dan terpenting karena, pemberdayaan ekonomi sebagai pilar bagi kehidupan manusia dan menjadi soko guru untuk kesejahteraan keluarga.
Hal ini dikatakan Pimpinan Wilayah Muhammadyah Nusa Tenggara Timur, Prof. Dr. Sandi Maryanto pada acara Milad Aisyiyah yang ke-104 diarena Taman Nostalgia Kupang, Minggu( 6/5/2018).
Dikatakan Sandi, Milad Aisyiyah yang mengambil tema” Gerakan pemberdayaan ekonomi sebagai pilar kemandirian Bangsa” mempunyai makna dasar bagi kehidupan masyarakat, disamping itu juga memiliki penekanan pada sayang anak dan peduli terhadap keluarga.
” Milad ini juga bermakna sayang anak dan peduli keluarga. Sayang anak artinya, sayang terhadap anak yatim piatu, anak yang tidak mampu, anak yang terlantar dan juga keluarga yang kurang mampu. Suatu ketika kita sudah mempunyai kemampuan karena pemberdayaan ekonomi tadi,  maka kita wajib memberikan sumbangan. Khusus untuk Muhammadyah, ini sangat penting terutama dibidang kesehatan dan kesejahteraan karena orang yang sehat pasti sejahtera. Aisyiyah mempunyai visi yang bagus sehingga kedepannya akan lebih baik lagi untuk kesejahteraan masyarakatnya” kata mantan Rektor Univ Muhammadyah ini.
Sementara itu ditempat yang sama, Rektor Universitas Muhammadyah Kupang, Dr Zainur Wula, S.Pd. M.Si saat dimintai pendapatnya mengatakan, Momen Milad Aisyiyah ke 104 ini sangat tepat, karena merupakan gerakan perempuan Islam di NTT dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

” Kita sangat bangga dengan eksistensi Aisyiyah NTT dalam kiprahnya telah menunjukkan karya nyata tidak hanya dalam pendidikan saja, tetapi dalam bidang kesehatan yang kita saksikan bersama pada acara ini, ada pengobatan gratis dari klinik Aisyiyah,  ada pemberdayaan ekonomi lewat kegiatan Bazar  dan sebelumnya telah di awali kegiatan seminar dan rapat kerja. Ini menunjukkan Pimpinan Wilayah Aisyiyah NTT sangat progres dengan hasil karya nyata,” katanya.
Dirinya juga berharap, Aisyiyah kedepannya lebih reponsif lagi terutama dalam hal perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan anak dan Human trafficking, tenaga kerja. Kiranya PW Aisyiyah NTT bisa memberikan advokasi, sehingga masalah-masalah itu bisa diminimalisir.(sint).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *